Menguak Misteri Isu Kiamat Sudah Dekat di Ponorogo



Satuindo.com ~ PONOROGO – Isu kiamat pertama kali bakal terjadi di Desa Watu Bonang, Badegan, Ponorogo, membuat 16 kepala keluarga (KK) yang terdiri dari 52 warga pindah meninggalkan kampung halamannya.

Mereka disebut pindah ke Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Falahi Mubtadin’ (MFM) di Kesambon, Kabupaten Malang, Jawa Timur yang dipercaya sebagai tempat paling aman.

Akibatnya, warga pun menjual murah semua harta-bendanya, termasuk tanah dan rumah berkisar antara Rp10 juta sampai Rp20 juta.

Kamitua Krajan, Sogi (40) menyebut, Ke-52 warga itu terdiri dari 23 perempuan dan 29 lak-laki.

Mereka meninggalkan desa kelahiran tanpa pamit dan juga pergi tidak secara bersamaan.

“Kebanyakan membawa keluarga. Nggak pamit,” katanya kepada Radar Ponorogo (Jawa Pos Grup/PojokSatu.id).

Kaur pemerintahan desa setempat itu menyayangkan kepergian sebagian warganya dengan alasan yang masih misterius.

Sogi menambahkan, menurut informasi yang didapat pihaknya, puluhan warganya itu pergi lantaran hendak menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren (ponpes) di Malang tak entah kapan mereka kembali.

“Yang jual rumah kami tanya, jawabnya seperti itu. Nanti kalau balik ke sini terus tinggalnya gimana, kami juga tidak tahu,” ungkapnya.

Bukan hanya warga Watu Bonang, dua keluarga yang terdiri atas enam jiwa di Semanding, Kauman, juga turut pindah ke Malang.

Bahkan, satu keluarga menyuruh anaknya resign dari salah satu perusahaan milik BUMN.

“Dua KK itu berangkat sejak Sabtu (2/3),” ungkap Kaur Trantib Semanding Wahyudi.

Berbeda dengan 16 KK dari Watu Bonang, warga Semanding yang pergi itu sempat berpamitan ke lingkungan sekitar.

“Juga menitipkan kegiatan keagamaan di musala,” ujarnya.

Wahyudi mengungkapkan, ada seorang warganya yang tidak ikut berangkat dengan alasan tidak memiliki biaya. Yang bersangkutan mengaku tidak mendapat doktrin tentang kiamat.

Hanya, kiai panutannya mengatakan, bakal terjadi kemarau panjang di Indonesia selama tiga tahun.

“Itu yang diceritakan kepada saya dari yang bersangkutan. Valid langsung dari orangnya,” beber dia.

Sekelompok warga yang mendadak pindah dan sebagian menjual tanah beserta rumahnya itu diketahui merupakan jamaah Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah.

Sebagian besar pengikutnya merupakan warga Dusun Krajan, Desa Watu Bonang, Badegan.

Hijrahnya warga Watu Bonang disebut memiliki keterkaitan dengan Padepokan Gunung Pengging di desa itu.

Tiga tahun terakhir, padepokan itu menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi jamaah Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah.

Kemarin sore Dandim 0802 Ponorogo Letkol (Inf) Made Sandy Agusto mendatangi Desa Watu Bonang. Dia menelusuri kebenaran doktrin kiamat yang telanjur beredar luas di masyarakat.

“Kami sudah ke lokasi. Kami pastikan seluruh ajaran di jamaah itu tidak ada yang menyimpang,” kata dia.

Sementara itu, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni meminta masyarakat tetap menjaga kondusivitas dan mencerna berbagai berita maupun informasi terkait viralnya kabar doktrin kiamat tersebut.

Laporan yang dia terima, puluhan warga Watu Bonang itu pindah untuk menuntut ilmu di salah satu ponpes di Malang.

Yang dia sayangkan adalah munculnya informasi yang menyebut warga Watu Bonang boyongan ke Malang karena percaya isu-isu terkait.

“Mereka percaya bahwa dunia segera kiamat dan jika ikut pak kiai di ponpes itu katanya bisa selamat. Mereka telanjur percaya dan meyakini,” ujar Ipong.

Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto mengatakan, pihaknya telah mengumpulkan beberapa pihak untuk mengklarifikasi informasi tersebut.

Proses klarifikasi itu dilakukan dengan mengundang semua pihak terkait ke Polres Batu, Rabu (13/3) sore.

“Kami juga bekerja sama dengan Muspika, Pemkab Malang, MUI, NU, FKUB, termasuk anshor, untuk meluruskan informasi yang beredar saat ini, yang mana beberapa orang warga di Kabupaten salah satu Provinsi di Jatim mondok juga sebagai salah satu santri di pondok tersebut,” ujarnya.

Dari pertemuan tersebut, didapat beberapa informasi hoaks. Antara lain tentang akan adanya huru-hara kerusuhan setelah bulan suci Ramadan, adanya senjata tajam golok dan foto tokoh kiai ulama yang dijual seharga Rp1 juta.

Budi menegaskan bahwa informasi soal anak-anak atau pun para santri yang disuruh menjual harta kekayaan dan diserahkan kepada Pondok Pesantren Miftakul Falakim Mubta’dziin juga hoaks.

“Termasuk yang paling mengerikan adalah isu anak-anak kelas 5 SD, kalau pada saat paceklik dia akan memotong tangan adiknya untuk dijadikan santapan makanan,” lanjut Budi.

Budi menerangkan, hal itu merupakan informasi yang bisa menimbulkan rasa ketakutan di masyarakat.

“Ini juga bisa merugikan pondok pesantren yang sudah mengajar anak didiknya sesuai dengan kaidah Islam yang benar, ini malah menjadi salah,” kata dia.

Fatalnya lagi, lanjut dia, hal ini bisa menjadi pemicu amarah bagi ponpes lain atau umat Islam di daerah lain.

Oleh karena itu, pihaknya hadir untuk menetralisir serta meng-counter informasi ini.

“Secara sah itu berita bohong,” tegasnya.

Dia menguraikan, berdasarkan data dari pengurus ponpes, setidaknya ada sebanyak 573 santri dari 177 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di dalam ponpes.

Sementara sebanyak 132 santri dari 45 KK berada di luar ponpes. Selanjutnya, dari 396 anggota, 277 orang tinggal di dalam ponpes dan 119 orang di luar ponpes.

Dia mengungkapkan, santri-santri tersebut berasal dari sejumlah wilayah.

Antara lain dari Kasembon sebanyak 51 orang, Kediri 106 orang, Lampung 50 orang, Ponorogo 42 orang, Jember 63 orang, Boyolali 45 orang.

Sementara lainnya ada yang berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Tuban, Surabaya, Jombang, Mojokerto, Blitar, Ngawi, Tulungagung, Nganjuk, Jember, Magelang, dan Ngasem.

“Jadi info yang beredar dari Ponorogo itu berjumlah 42 (orang),” jelas Budi.

Sementara, pengasuh Ponpes Miftahul Falahil Mubtadiin (MFM) Romli Soleh Syaifuddin membantah semua isu yang diarahkan kepada pihaknya.

“Semua isu yang muncul di media sosial itu berita bohong. Fitnah yang sangat merugikan kami,” jelas Romli Soleh atau biasa disapa dengan Gus Romli.

Romli menuturkan, pihaknya hanya mengajarkan bahwa tidak ada orang yang tahu kapan pastinya kiamat itu datang.

“Yang saya ajarkan adalah persiapan sebelum hari itu datang,” tambahnya.

Romli menegaskan, Ponpes MFM tidak pernah memberitahukan bahwa akan ada kiamat setalah Ramadan.

Ia hanya memberikan pengajaran mengenai 10 tanda besar kiamat, salah satunya adanya meteor.

“Tidak ada yang menyatakan setelah Ramadan terjadi kiamat. Itu hoax semua,” imbuh Romli.

Kendati demikian, Romli tak menampik bahwa dia pernah mengulas tentang meteor, musim paceklik dan kemunculan dajjal.

“Saya pernah menerangkan bahwa jika Ramadan muncul meteor, maka dunia akan terjadi huru hara selama 3 tahun, kemarau 3 tahun. Setelah itu muncul dajjal, dan seterusnya. Dan itu semua ada haditsnya,” ujarnya, sebagaimana dilansir Radar Malang, Kamis (14/3).

Terkait penjualan aset berharga milik warga untuk diserahkan kepada Ponpes MFM, Romli mengaku tidak tahu.

Namun di ponpes MFM memang ada kegiatan triwulan untuk menyongsong Ramadan dan itu sudah berjalan selama 3 tahun terakhir.


Resource : pojoksatu.id

1 Response to "Menguak Misteri Isu Kiamat Sudah Dekat di Ponorogo"

close