Sulitnya Soal UNBK: Murid Ada yang Menangis, Bahkan Pingsan



Satuindo.com ~ Siswi SMAN 1 Magelang, Yoanada Salsabila Adiningsih (18 tahun), tidak pernah menyangka, mata pelajaran Matematika dalam Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) kemarin akan begitu sulit. Dibanding dengan soal-soal latihan yang bisa dikerjakannya secara lancar, ia menemukan banyak hambatan dalam soal UNBK.

Menurutnya, seberapa sulit soal itu ditentukan dari perbedaan dengan soal latihan yang biasa dikerjakannya secara mandiri maupun bersama sekolah. Nyatanya, ada beberapa soal yang aku belum pernah temuin di latihan soal-soal sebelumnya. "Makanya, saya bilang itu sulit," ujar Yoanada ketika dihubungi Republika.co.id, Senin (16/4).

Sebenarnya, perbedaan soal dengan kisi-kisi tidak jauh secara signifikan. Hanya, Yoanada mengatakan, dirinya terlampau kaget dengan soal yang baru baginya. Ditambah, penyajian soal Matematika dalam UNBK kemarin terbilang kacau, banyak yang hilang sehingga membuat mental siswa menjadi down duluan.

Dari total 40 soal, ada sekitar lima soal yang jauh dari ekspektasi Yoanada. Selain itu, ada juga beberapa soal yang bingung bagaimana cara pengerjaannya. "Ini yang menyebabkan saya kehilangan banyak waktu, karena jarang nemuin soal dengan materi tersebut," ucapnya.

Ke depan, Yoanada berharap, pemerintah bisa lebih mempersiapkan semuanya dengan matang. Ditambah, ujian nasional tahun ini berbeda karena menggunakan komputer yang memiliki risiko lebih tinggi.

Terlebih, ada pernyataan yang secara tiba-tiba mengatakan bahwa penilaian UNBK Matematika seperti penilaian SNMPTN terbaru, di mana bobot nilai tiap soal berbeda.

"Kami sebagai siswa belum pernah mendengar sistem penilaian seperti itu. Kenapa tiba-tiba pemerintah berkehendak seperti itu? Lalu, bagaimana kami bisa menerima?" tutur Yoanada.

Seharusnya, pemerintah bisa mengambil keputusan dengan bijak. Setidaknya, sebelum mengeluarkan pernyataan seperti itu, pemerintah melakukan pendekatan dengan siswa terlebih dahulu.

Menurut Yoanada, apabila soal dan cara penilaiannya kacau dan tidak jelas begini, bagaimana bisa hasil nilai tersebut jadi tolak ukur untuk menentukan perkembangan pendidikan siswa di seluruh daerah. "Saya berharap, pemerintah memikirkan ulang bagaimana masalah ini seharusnya ditanggapi, agar kejadian serupa tidak terulang di tahun depan," ucapnya.


Harapan lain disampaikan oleh Senda Risanda Alaika Selma, siswi kelas 3 SMA 1 Patianrowo, Nganjuk. Ia berharap, semisal ada soal bocor atau bermasalah, bisa diganti dengan soal cadangan.

Sebab, menurut isu yang didengarnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaaan tidak memiliki soal cadangan sebagai pengganti pertanyaan yang terlampau sulit bagi siswa.

Kesulitan mengerjakan soal matematika juga dialami Senda. Menurutnya, soal yang dikerjakan memiliki perbedaan jauh dibandingkan kisi-kisi yang didapatkan dari sekolah.

"Saya drop gara-gara kaget lihat soalnya. Beberapa teman saya ada yang sampai nangis dan bahkan pingsan," ujar Senda.

Dari total 40 soal, Senda mengaku hanya bisa mengerjakan setidaknya 23 soal dengan benar. Di samping soal yang baru dilihatnya, keterbatasan waktu semakin menghambat kinerja Senda. Durasi dua jam membuatnya dan beberapa teman yang memutuskan untuk jawab secara asal.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy di Jakarta, Jumat (13/4) pekan lalu, mengatakan, banyak siswa tidak siap dengan kenaikan standar yang diterapkan dalam UNBK tahun ini. Sehingga, muncul keluhan-keluhan terkait kesulitan soal.

"Siswanya banyak tidak siap, banyak siswa menganggap soal ujian nasional sama dengan tahun-tahun lalu, multiple choice menggunakan level tiga; padahal sekarang sudah beranjak ke level HOTS (higher order thinking skill) itu," kata Muhadjir di Istana Wakil Presiden Jakarta dikutip Antara, Jumat.

Pemerhati pendidikan dari Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen menekankan, HOTS bukan pelajaran, tetapi pendekatan. Jika ujian memakai model HOTS yang tidak pernah dikenalkan selama proses belajar maka dipastikan siswa kesulitan ketika mengerjakan soal.

“Kalau tidak pernah dikenalkan, pasti tidak nyambung. Logikanya gamblang,” kata Abduhzen melalui telepon pada Ahad (15/4).

Dia menerangkan pendekatan HOTS seharusnya sudah dikenalkan dalam proses belajar dan tidak muncul tiba-tiba sebagai soal. Anak harus dibiasakan dulu dibawa dalam suasana belajar nalar tinggi.

Wakil Sekretaris Jenderal Forun Serikat Guru Indonesia (FSGI) Satriwan Salim mengatakan, permintaan maaf Kemendikbud setelah para peserta UNBK SMA pada  2018 mengeluhkan sulitnya soal-soal UNBK, terutama mata uji Matematika, mungkin saja dapat meredakan derasnya komentar pedas para siswa di berbagai media sosial. Namun, pengakuan dan permintaan maaf tersebut harus disertai evaluasi menyeluruh atas soal-soal UNBK.

"Para siswa merasa mereka sudah belajar optimal, sesuai kisi-kisi soal dan try out yang dipelajari berbulan-bulan. Tapi, soal yang keluar ternyata jauh dari perkiraan," kata Satriwan Salim melalui siaran pers, Ahad (15/4).



Resource : republika.co.id

0 Response to "Sulitnya Soal UNBK: Murid Ada yang Menangis, Bahkan Pingsan"

Post a Comment

close
Banner iklan disini