Demi Jadi Dokter, Wanita Ini Tempuh Perjalanan 11 Jam Sambil Gendong Bayi Ke Lokasi Ujian

wanita yang kerjakan soal ujian masuk universitas sambil gendong bayi 

Satuindo.com ~ Petani wanita Afganistan, Jahantab Ahmadi duduk di lantai yang beralaskan tanah, bayinya bersandar di pangkuannya, dan dia sedang mengerjakan ujian masuk universitas.

Ahmadi tak merasa risih membawa anaknya yang masih bayi ke dalam ruang ujian.

Ahmadi hanya berharap ia akan lulus ujian ini, karena akan membantunya memenuhi mimpinya.

Foto ini diambil oleh seorang profesor di universitas swasta Nasir Khusraw di Afghanistan Tengah, dan menjadi viral di dunia media sosial.

Apalagi di negara Afghanistan, sebagian besar wanita buta huruf dan diperlakukan sebagai warga negara kelas dua.

Gambar itu telah memicu luapan kekaguman dan tawaran bantuan keuangan untuk ibu berusia 33 tahun ini.

"Saya tidak ingin kehilangan studi saya," kata Ahmadi kata AFP di Kabul.

Tak hanya itu, impian Ahmadi pun sungguh sangat mulia, yakni menjadi dokter.

Karena menurutya, menjadi seorang dokter akan membantu melayani wanita dan juga masyarakat yang ada di daerahnya.

Daerah yang masih dikatakan tertinggal dibandingkan daerah lainnya di Afghanistan.

Apalagi, sekitar 39 persen penduduk Afgahanistan masih hidup dalam kemiskinan.

"Saya ingin bekerja di luar rumah. Saya ingin menjadi dokter, seseorang yang melayani wanita di komunitas atau masyarakat saya," ujar Ahmadi.

Ahmadi berasal dari desa pertanian terpencil di provinsi Daikundi yang mana gandum, jagung dan kentang hanya memberikan penghasilan yang sangat sedikit.

Bahkan untuk mencapi lokasi ujian ini, Ahmadi harus berjalan kaki melalui gunung selama dua jam dan sembilan jam di angkutan umum di jalan bergelombang.

Lokasi ujian sendiri berada di Nili, ibukota provinsi Daykundi, Afghanistan.

Setelah mengerjakan tes ujian, Ahmadi pun dinyatakan lulus.

Namun, ketika kuliah Ahmadi tak perlu risau mengenai biaya.

Sebuah kampanye online GoFundMe yang diluncurkan oleh Asosiasi Pemuda Afganistan, akan membantu membayar biaya universitas Ahmadi.

Sejauh ini, dana yang telah dikumpulkan berjumlah lebih dari US $ 14.000 (S $ 18.370).

Ahmadi tampak sedikit bingung dengan perhatian yang dipicu oleh foto dirinya yang sedang menggendong bayinya yang bernama Khizran selama ujian bulan lalu.

Ahmadi baru mengetahuinya.

"Teman-temanku di desa memberitahuku 'kamu telah difoto'. Aku berkata 'bagaimana bisa aku tidak tahu bahwa aku sedang difoto' dan mereka berkata 'kamu sedang berkonsentrasi di atas kertas'," katanya, tersenyum malu.

Pada awal tes, yang diadakan di luar ruangan, Ahmadi duduk di meja dengan Khizran di pangkuannya.

Tetapi bayi itu menderita sakit telinga dan tidak mau berhenti menangis.

Untuk membuatnya tenang dan tidak mengganggu orang lain, Ahmadi duduk di lantai yang beralaskan tanah dan terus menulis.

"Saya harus berkonsentrasi pada bayi dan mengerjakan kertas," katanya.

UNIVERSITAS, Tujuan Hidupnya 'Life Goal'

Kisah Ahmadi telah bergaung di pengguna media sosial di seluruh negeri, dan memuji tekadnya untuk sekolah.

"Kamu adalah seorang juara dunia sejati, kamu telah menunjukkan bahwa seorang gadis Hazara dapat melakukan apa saja dalam segala kondisi atau keadaan," tulis Nazar Hussein Akbari di Facebook, mengacu pada etnisnya.

Pengguna lain memposting: "Saya harap wanita pekerja keras ini mencapai tujuannya."

Aktivis hak-hak perempuan Afghanistan Zahra Yagana juga terkesan.

Dia menghubungi Ahmadi dan meyakinkannya untuk datang ke Kabul untuk belajar.

Keluarga itu tinggal bersama Yagana ketika dia membantu Ahmadi masuk ke universitas swasta di ibukota Afghanistan.

"Jika dia harus belajar di Daikundi, itu akan sulit baginya," kata Yagana kepada AFP di apartemennya.

"Standar pendidikannya rendah. Tidak ada asrama mahasiswa di Daikundi dan dia harus tinggal di rumah kontrakan.

"Kami akan memberinya rumah (di Kabul). Ada banyak teman yang telah berjanji untuk membantunya. Kami berusaha mencari pekerjaan untuk suaminya dan juga mengumpulkan uang untuk anak-anaknya pergi ke sekolah."

Bagi Ahmadi, ini adalah pemenuhan impiannya.

"Tujuan hidup saya adalah masuk ke universitas," kata Ahmadi, yang menyelesaikan SMA setelah menikah pada usia 18 tahun.

"Tetapi karena situasi ekonomi kita yang buruk dan kemiskinan, saya tidak bisa belajar selama tiga atau empat tahun."

Tingkat keaksaraan umum Afghanistan adalah salah satu yang terendah di dunia, hanya 36 persen, menurut angka resmi.

Ini jauh lebih rendah untuk wanita.

"Aku tidak ingin ketinggalan," katanya.


Resource : tribunnews.com

0 Response to "Demi Jadi Dokter, Wanita Ini Tempuh Perjalanan 11 Jam Sambil Gendong Bayi Ke Lokasi Ujian "

Post a Comment

close